Cream

Standard

BAB I
PENDAHULUAN

LANDASAN TEORI
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air.
Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. (Farmakope Indonesia IV : 6)
Berdasarkan macam zat cair yang berfungsi sebagai fase internal ataupun eksternal, emulsi digolongkan menjadi dua macam, yaitu :
Emulsi tipe O/W (Oil in Water) atau M/A (Minyak dalam Air), adalah emulsi yang terdiri dari butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal.
Emulsi tipe W/O (Water in Oil) atau A/M (Air dalam Minyak), adalah emulsi yang terdiri dari butiran air yang tersebar atau terdispersi ke dalam minyak. Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal.
Pemerian
Spermaceti / Cetaceum (Farmakope Indonesia III : 141)
Masa hablur, bening, licin, putih mutiara, memiliki bau dan rasa yang lemah.
Titik Lebur : 42○ – 50○ C
Fungsi : Zat Tambahan
White Wax / Cera Alba (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 187)
Padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam keadaan lapisan tipis, bau khas lemah dan bebas bau tengik.

Titik Lebur : 62○ – 65○ C
Fungsi : Penstabil
Sodium Borate / Borax (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 669)
Putih, kristal keras, granul atau serbuk kristal.
Titik Lebur : 75○ C
Fungsi : Antimikroba, Emulsi Agent
Stronger Rose Water
Bening, bau khas, encer.
Fungsi : Zat tambahan, Pewangi
Purified Water / Aqua Destilata (Farmakope Indonesia III : 96)
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak punya rasa.
Rose Oil / Minyak Mawar (Farmakope Indonesia III : 459)
Tidak berwarna atau kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25○ C kental, jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika dipanaskan mudah melebur.
Fungsi : Pengaroma
Stearyl Alcohol / Cetostearyl Alcohol (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 151)
Putih atau hampir putih atau granul, larut dalam etanol.
Titik Lebur : 57○ – 60○ C
Fungsi : Pelembut
Sorbitan Monooleate / Span 80 (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 714)
Seperti krim atau cairan atau padatan yang berwarna dengan bau dan rasa yang berbeda.
Titik Beku : -12○ C
Fungsi : Nonionik Surfaktan, Suspending Agent, Emulgator
Sorbitol Solution 70% (British Pharmakope Vol.I: 1331)
Jernih, tidak berwarna, cairan seperti sirup, dapat dicampur dengan air, gliserol 85% dan dengan propilen glikol, larut dalam alkohol.
Titik Lebur : 110○ – 112○ C
Fungsi : Pemanis

Polysorbate 80 / Tween 80 (Farmakope Indonesia III : 509)
Cairan kental seperti minyak, jernih, kuning, bau asam lemak khas.
Fungsi : Zat tambahan
Methyl Paraben / Nipagin (Farmakope Indonesia III : 378)
Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak punya rasa, agak membakar diikuti rasa tebal.
Titik Lebur : 125○ – 128○ C
Fungsi : Zat Pengawet
Propyl Paraben / Nipasol (Farmakope Indonesia III : 535)
Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa.
Titik Lebur : 95○ – 98○ C
Fungsi : Zat Pengawet
Coconut Oil / Minyak Kelapa (British Pharmakope Vol.I: 403)
Putih, berbau kelapa, mudah larut dalam alkohol 96%, sedikit larut dalam temperatur rendah.
Titik Lebur : 23○ – 26○ C
Fungsi : Pelembut
Stearic Acid / Asam Stearat (Farmakope Indonesia III : 57)
Zat padat keras mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih atau kuning pucat mirip lemak lilin.
Titik Lebur : Tidak kurang dari 54○ C
Fungsi : Emulsi Agent
Cetyl Alcohol (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 155)
Putih, granul, bau yang khas.
Titik Lebur : 45○ C sampai 52○ C
Fungsi : Emulgator, Pengental
Gliserin / Gliserol (Farmakope Indonesia III : 271)
Cairan seperti sirup, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat.
Fungsi : Antimikroba
Potassium Hidroxide / Kalium Hidroksida (Hand Book of Pharmaceutical Excipient : 61)
Massa berbentuk batang atau bongkahan, putih, sangat mudah meleleh.
Fungsi : Anticaking
LATAR BELAKANG
Adapun dibuatnya sediaan krim ini karena mudah menyebar rata, praktis, lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air ), cara kerja langsung pada jaringan setempat, tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ), bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun sehingga pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien, aman digunakan dewasa maupun anak – anak, memberikan rasa dingin, terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak ), bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi, pada fase a/m ( air dalam minyak ) karena kadar lemaknya cukup tinggi, bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim kuku, dan deodorant, bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak.
Namun di samping kelebihan tersebut, ada kekurangan di antaranya yaitu mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak )
karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatuka, .susah dalam pembuatannya, karena pembuatan cream mesti dalam keadaan panas, mudah lengket, terutama tipe a/m ( air dalam minyak ), gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas, pembuatannya harus secara aseptik.

BAB II
BAHAN, PERHITUNGAN BAHAN DAN CARA KERJA

FORMULA V
Bahan
Cream Base W/O
Oleaginous Phase
Spermaceti 12,5 %
White Wax 12,0 %
Coconut Oil 55,58 %
Aqueous Phase
Sodium Borate 0,5 %
Stronger Rose Water 2,5 %
Purified Water 16,5 %
Aromatic
Rose Oil 0,02 %
m.f 50 g
Perhitungan Bahan
Spermaceti : 12,5/100 x 50 = 6,25 g
White Wax : 12,0/100 x 50 = 6 g
Coconut Oil : 55,58/100 x 50 = 27,79 g = 27,8 g
Sodium Borate : 0,5/100 x 50 = 0,25 g = 250 mg
Stronger Rose Water : 2,5/100 x 50 = 1,25 g
Purified Water : 16,5/100 x 50 = 8,25 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ =(8,25 g)/(1 g/ml)=8,25 ml
Rose Oil : 0,02/100 x 50 = 0,01 g = 10 mg ≈ 50 mg

Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang sesuai kebutuhan
Lelehkan Spermaceti dan White Wax di penangas air
Tambahkan Coconut Oil dan teruskan pemanasan sampai 70○ C
Larutkan Sodium Borate dalam Purified Water dan Stronger Rose Water, dihangatkan samapai 75○ C
Secara bertahap tambahkan fase air ke fase minyak dengan pengadukan
Dinginkan hingga 45○ C dengan pengadukan dan tambahkan Rose Oil

FORMULA VI
Bahan
Cream Base O/W
Oleagenous Phase
Stearyl Alcohol 15 %
White Wax 8 %
Sorbitan Monooleate 1,25 %
Aqueous Phase
Sorbitol Solution 70 % 7,5 %
Polysorbate 80 3,75 %
Methyl Paraben 0,025 %
Propyl Paraben 0,015 %
Purified Water qs ad 100 %
m.f 50 g
2.2.2 Perhitungan Bahan
– Stearyl Alcohol : 15/100 x 50 = 7,5 g
White Wax : 8/100 x 50 = 4 g
– Sorbitan Monooleate : 1,25/100 x 50 = 0,625 g = 625 mg
– Sorbitol Solution 70 % : 7,5/100 x 50 = 3,75 g
– Polysorbate 80 : 3,75/100 x 50 = 1,875 g
– Methyl Paraben : 0,025/100 x 50= 0,0125 g = 12,5 mg ≈ 50 mg
– Propyl Paraben : 0,015/100 x 50 = 0,0075 g = 7,5 mg ≈ 50 mg
– Purified Water : 50 – (7,5 + 4 + 0,625 + 3,75 + 1,875 +
0,0125 + 0,0075) = 32,23 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ =(32,23 g)/(1 g/ml)=32,23 ml
Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang bahan sesuai kebutuhan
Panaskan fase minyak dan fase air hingga 70○ C
Tambahkan fase minyak dengan perlahan ke fase air dengan pengadukan untuk membentuk emulsi minyak mentah
Dinginkan sekitar 55○ C dan homogenkan
Dinginkan dengan pengadukan hingga mengental
2.3 FORMULA VII
2.3.1 Bahan
Cream Base O/W
Oleagenous Phase
Stearic Acid 13 %
Stearyl Alcohol 1%
Cetyl Alcohol 1%
Aqueous Phase
Glycerine 10%
Methyl Paraben 0,1%
Propyl Paraben 0,05%
Potassium Hidroxide 0,9%
Purified Water qs ad 100%
m.f 50 g
2.3.2 Perhitungan Bahan
Stearic Acid : 13/100 x 50 = 6,5 g
Stearyl Alcohol : 1/100 x 50 = 0,5 g = 500 mg
Cetyl Alcohol : 1/100 x 50 = 0,5 g = 500 mg
Glycerine : 10/100 x 50 = 5 g
Methyl Paraben : 0,1/100 x 50 = 0,05 g = 50 mg
Propyl Paraben : 0,05/100 x 50 = 0,025 g = 25 mg
Potassium Hidroxide : 0,9/100 x 50 = 0,45 g = 450 mg
Purified Water : 50 – (6,5 + 0,5 + 0,5 + 5 + 0,05 + 0,025
+ 0,45) = 36,975 g
BJ air = 1 g/ml
Volume= Massa/BJ=(36,975 g)/(1 g/ml)=36,975 ml
2.3.3 Cara Kerja
Siapkan alat dan bahan, timbang bahan sesuai kebutuhan
Panaskan fase minyak dan fase air sekitar 65○ C
Tambahkan fase minyak dengan perlahan ke fase air dengan pengadukan untuk membentuk emulsi minyak mentah
Dinginkan sekitar 50○ C dan homogenkan
Dinginkan dengan pengadukan hingga mengental

BAB III
PEMBAHASAN DAN HASIL KERJA
3.1 PEMBAHASAN
Rose Oil / Minyak Mawar dimasukkan pada saat temperatur rendah sekitar 45○ C, ini dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kehilangan aroma karena penguapan saat pembuatan. (Modern Pharmaceutical : 309)
Surfaktan atau Emulsi Agent yang terdapat pada Formula V dan Formula VI yaitu Sodium Borate, Stearyl Alcohol, Sorbitan Monooleate, dan Polysorbate 80.
Bobot Jenis (BJ) minyak mawar adalah 0,848 sampai 0,863, penetapan dilakukan pada suhu 30○ C dan air akan ditetapkan pada suhu 15○ C. (Farmakope Indonesia III : 459)
3.2 HASIL KERJA
3.2.1 FORMULA V
Bobot pot kosong : 7,5 g
Bobot pot + isi : 51 g
Bobot isi : 51 – 7,5 = 43,5 g
Bobot penyusutan : 50 – 43,5 = 6,5 g
Persentase bobot penyusutan : 6,5/50 x 100 % = 13 %
3.2.2 FORMULA VI
Bobot pot kosong : 10,5 g
Bobot pot + isi : 53 g
Bobot isi : 53 – 10,5 = 42,5 g

Bobot penyusutan : 50 – 42,5 = 7,5 g
Persentase bobot penyusutan : 7,5/50 x 100 % = 15 %
3.2.3 FORMULA VII
Bobot pot kosong : 9,3 g
Bobot pot + isi : 54,5 g
Bobot isi : 54,5 – 9,3 = 45,2 g
Bobot penyusutan : 50 – 45,2 = 4,8 g
Persentase bobot penyusutan : 4,8/50 x 100 % = 9,6 %

BAB IV
KESIMPULAN

4.1 KESIMPULAN
Dari hasil praktikum di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi bobot penyusutan pada saat pengerjaan, hal itu terjadi karena pada saat proses peleburan terjadi penguapan yang berlebihan, bahan yang masih melekat pada cawan uap pada saat proses peleburan serta cream yang masih melekat pada lumpang pada saat proses pengadukan hingga mengental.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s